Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2016

Irene Handono: Tidak Mampu Menemukan Kelemahan al-Qur'an.

Namaku Irene Handono.
Aku dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ayah & ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibaptis, & sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.

Selasa, 15 Maret 2016

Kamis, 25 Februari 2016

Pintu Hidayah


Kutipan Berita Detik:

Warga Pedalaman Australia Jatuh Cinta pada Islam

Kamis, 28 Januari 2016

Selasa, 17 Maret 2015

Gyorgy Jakab Gemetar

Perjalanan


Gyorgy Jakab atau Yakub itu mualaf Hungaria. Suatu negeri di Eropa Timur, negeri yang pernah melarang ajaran Islam.

"Islam sempat berjaya ketika masa Turki Ustmani. Namun, kejatuhan Turki & munculnya penguasa baru, Austria & lahirnya pemerintahan komunis telah mengubah jalan dakwah Islam,".

Jumat, 13 Februari 2015

Sekian Tahun Berdialog, Gadis Ukraina Cantik Akhirnya Islam #3/3


Jelas sekali, kerumitan itu masih tetap mengganjal. Aku mencoba untuk mencontohkan kepadanya, 


“Dunia ini penuh dengan orang-orang yang menamakan diri mereka orang-orang masehi & secara logika, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang menganut agama al-Masih, ‘Isa & al-‘Azra’, Maryam!”

Sekian Tahun Berdialog, Gadis Ukraina Cantik Akhirnya Islam #2/3



Ketika bertemu, ia kaget melihat perubahan diriku & lantas bertanya-tanya tentang sebab keputusanku tersebut. Saat itulah, aku menggunakan kesempatan baru ini dengan penuh rasa percaya diri akan lebih mampu membuatnya puas & yakin sebab aku merasa pengetahuan agamaku pun sudah lebih luas dari sebelumnya. 

Eduard Petrovic: Pencarian Panjang


Eduard Petrovic. Lahir & besar di Rumania, Eropa Timur. Sejak Juli 2009, ia membuat keputusan terbaik, Muslim.

Sejak kecil, Petrovic tumbuh di bawah asuhan nenek & kakeknya. Kedua orang tuanya bercerai ketika ia masih berumur beberapa bulan. Kemudian menyerahkan Petrovic kepada orang tuanya. 

“Merekalah yang mengasuhku sampai besar,” tuturnya.

Peta Rumania, Eropa Timur

Petrovic menjalani hidup dengan sangat baik di bawah asuhan kakek & nenek. Ia malah nyaris tidak memerhatikan kehadiran wanita cantik, yang selalu datang mengunjungi kediaman mereka.

“Saat bertamu ke tempat kami, perempuan itu kadang-kadang juga mengajakku berbicara. Aku ingat, ketika itu aku masih 8 tahun,”.

Petrovic bertanya kepada neneknya, siapa gadis cantik itu? Perempuan itu akhirnya mengungkapkan, kalau dia ibu kandungnya. Petrovic tidak pernah tahu ini sebelumnya. Sejak bayi, sang bunda menyerahkannya pada kakek & nenek.

Petrovic menjalani hidup bersama ibunya di rumah yang memang sengaja dibangunnya untuk mereka berdua. 

Bundanya, adalah ibu yang baik. Merawat Petrovic sungguh-sungguh & ingin memberikan pendidikan terbaik. 

“Aku pun mempelajari banyak hal tentang agama Kristen & bahkan pernah bercita-cita menjadi seorang pendeta jika sudah dewasa,”.

Ketika usianya 14 tahun, ibunya berkenalan dengan seorang pria Amerika Serikat lewat internet. Pria itu datang ke Rumania & tinggal bersama mereka selama 2 pekan.

Selama pria itu menginap di rumah ibunya, Petrovic harus tinggal dengan kakeknya lagi sementara waktu. Setelah itu, ibunya membuatkan paspor, lalu mereka terbang ke AS & tinggal di sana bersama lelaki itu. Kelak, pria itu menjadi menjadi ayah tirinya.

Petrovic merindukan masa-masa bersama kakek, nenek, & semua temannya di Rumania. 

“Aku memang telah belajar bahasa Inggris di sekolah, sehingga bahasa tidak menjadi masalah lagi buatku. 

Akan tetapi, cara hidup di AS benar-benar berbeda, sehingga sulit rasanya bagiku untuk menyesuaikan diri,”.

Ia tinggal di Chicago beberapa waktu. Kemudian pindah ke Dallas, Texas, tempat mereka menetap sampai sekarang ini.

Peta Dallas, Texa, Amerika

“Aku terus belajar dengan giat, disamping mendalami olahraga sepakbola. Sebelum terbang ke AS, aku memang sempat berjanji pada kakek untuk menjadi seorang pemain sepakbola profesional,”.

Sepanjang 2 pekan terakhir Oktober 2008, Petrovic harus mengalami hari-hari terburuk dalam hidupnya.

Saat itu, ibunya mengabarkan bahwa kakeknya sedang sakit keras. Lelaki tua yang sangat ia cintai itu akhirnya tutup usia pada 30 Oktober.

“Itu menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupku. Awal Desember di tahun yang sama, kami berangkat ke Rumania & mengunjungi gereja untuk mendoakan kakek,”.

Saat kembali ke tanah kelahirannya, Petrovic bertemu ayah kandungnya untuk pertama kalinya. Sebelumnya, sang bunda tidak pernah mengatakan apa pun tentang dirinya & ia pun tak pernah bertanya.

Perjumpaannya dengan sang ayah, mengungkap siapa lelaki itu sesungguhnya. Ayah kandungnya seorang Muslim, keturunan Turki-Bulgaria.

Petrovic sempat berbincang banyak dengannya saat itu. Ia menanyakan mengapa dia & ibunya bercerai. 

“Ayahku menjelaskannya dengan baik. Juga berbicara tentang Allah & menceritakan kisah-kisah yang membuatku merasa lebih kuat menerima kepergian kakek,”.

Setelah di AS lagi, awal 2009, ibunya bercerai dengan ayah tirinya. Sejak itu, mereka tinggal sendirian. 

Sang ibu sepertinya sangat terpukul oleh perpisahannya dengan lelaki itu. Kala itu, Petrovic sudah mulai mempelajari Islam. 

“Aku benar-benar menyukai cara agama ini menuntun hidup manusia.”

Petrovic mendalami Islam beberapa bulan. Saat liburan musim panas, tepatnya Juli 2009, ia akhirnya memutuskan menjadi seorang Muslim. 

“Tiada Tuhan selain Allah, & Muhammad adalah utusan-Nya.”

Setelah melafalkan sendiri kalimat tersebut dalam bahasa Arab, ia melanjutkannya dengan mandi wajib. Mulai saat itu, terus berusaha menjadi Muslim yang taat & selalu menunaikan shalat setiap hari.

Saat memperoleh hidayah Allah itu, ibunya mulai berkencan dengan pria lain & itu sangat menyakitkan hatinya. Ia benar-benar tidak siap menerima kehadiran ayah tiri lagi. Namun, Petrovic tak bisa menolak takdir itu.

Ramadhan tiba, 1 bulan setelah mualaf. Ia pun mulai puasa pertamanya. Ini menjadi awal yang sangat berat. Kadang-kadang, harus puasa sembunyi-sembunyi. 

“Ibuku tidak bisa menerima anaknya Islam. Belum lagi suami barunya Katolik taat & sangat membenci Muslim,”.

Ia berusaha sebisa mungkin shalat di masjid, walaupun juga harus sembunyi-sembunyi. 

“Sulit memang menjadi seorang Muslim. Tapi aku akan tetap mempertahankan keimananku karena Islam adalah agama yang besar & menakjubkan,”.

Hidupnya jauh lebih tenteram & damai dengan berislam. Ia menganggap semua Muslim seperti saudara-saudaraknya sendiri. 

“Mereka tak sungkan membantuku, meskipun kami tidak saling kenal. Ini benar-benar mengagumkan.”

Petrovic sangat berharap, suatu saat orang tuanya akan menyadari apa yang ia rasakan. Terutama ibunya. Ia selalu berdoa semoga sang bunda menerima hidayah Allah & menjadi seorang Muslimah. (Republika.co.id)


Minggu, 08 Februari 2015

Pertanyaan Kematian


'Ketika Anda mati, ke mana Anda akan pergi, Ann?' Untuk sejenak, Ann Marie merenung. Namun tiba-tiba dia mendapat jawabannya. Ia menjawab akan pergi ke neraka.

Ini kisah Ann Marie Lambert Stock, seorang muslim Amerika Serikat yang muslim pada 1980, ketika literatur Islam sangat sulit didapat di negara adidaya.

Jumat, 06 Februari 2015

Hijab Menuntun


Amirah Bouraba mengenal Islam saat usianya 15. Di usia tersebut biasanya remaja mulai tertarik lawan jenisnya, pacaran, & aktifitas lainnya.

Ketertarikan pada Islam, dimulai saat berteman dengan kawan dari Asia. Waktu itu, tahun terakhir di sekolah menengah atas. Banyak teman anak Asia & salah 1, sahabatnya.

Amirah tak pernah menanyakan latar belakang agama mereka karena tak begitu peduli latar belakang agama seseorang.

Jumat, 30 Januari 2015

Melekh Yacov, Yahudi Hasidic Memeluk Islam @2/2



Yacov tidak begitu saja menerima jawaban itu. Menurut dia, orang Yahudilah yang membunuhi warga Palestina. Bagaimana bisa, orang Yahudi menyangkal pengusiran yang dilakukannya.

“Mereka memprotes adanya pembantaian etnis. Tapi mereka sendiri melakukannya. Mereka berdalih hal itu dibenarkan dalam Taurat, tapi sebenarnya tidak seperti itu,”.

Memasuki sekolah menengah, mulai tertarik filsafat. Ia menghabiskan waktu membaca karya pemikir-pemikir besar. Filsuf Yahudi Spinoza. Juga karya Abram Leon, tokoh komunis Belgia, yang tewas di Aushwitz. Tak ketinggalan karya Karl Marx, Lenin, Stalin, Mao Zeding & Leon Trotsky.

“Setiap kali saya membaca Marxisme, saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Kadang saya merasa telah menemukan jawabannya, namun sebenarnya tidak,”.

Setelah bertemu semua kelompok kiri, Yacov tidak bisa seutuhnya menerima konsep atheisme. Ia percaya, ada tujuan akhir hidup ini. Agama adalah alat menjembatani antara kehidupan di dunia & kehidupan lain, sesudah kematian.

Di sisi lain, ia membenci aliran fundamentalis dalam agama.
“Saya masih percaya adanya agama, tapi saya merasa skeptis dengan terhadap semua agama,”.

Kekosongan itu, secara perlahan mulai terisi. Ia tidak ingat, apa yang membuatnya tertarik Islam. Ia pernah mendengar ibunya bercerita tentang Islam, sosok Muhammad SAW, keturunan Ibrahim as. dari bangsa Arab.

“Saat itu saya melihat Islam hanya sebatas agama yang menyembah 1 Tuhan. Tapi pandangan saya berubah, ketika sepupu saya (Chasid) mengatakan jika seorang Yahudi menjadi Muslim, ia akan berbuat dosa. Saya sontak terkejut,”.

Ketika tragedi 9/11, gerakan anti Islam tumbuh pesat. Awalnya, ia sadar ada sesuatu yang dilindungi. Hal itu yang membuatnya tertarik mengenal lebih dalam tentang Islam.

“Saya bersyukur, tanpa mereka (media & masyarakat), saya tidak akan mendalami Islam,”.

Suatu hari, ia mendengar diskusi tentang fakta ilmiah dalam Injil. Sekelebat, ia bertanya, apakah Alquran memiliki fakta ilmiah di dalamnya. Pertanyaan itu segera ia cari jawabannya. Ia gali informasi lewat internet. Butuh banyak artikel yang perlu ia baca guna menemukan jawaban itu. Ia pun terkejut apa yang ia baca.

“Al-Quran memiliki pesan moral yang luar biasa. Sangat menyenangkan ketika membacanya. Sekitar lima bulan mendalami Islam, akhirnya saya memutuskan menjadi Muslim, & mengucapkan dua kalimat syadahat, 

Aku Bersaksi tiada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, & Aku bersaksi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,”.

Tidak butuh waktu lama, ia beradaptasi. Islam merupakan agama yang masuk akal. Islam membantunya memahami dunia. Satu hal yang ia yakini, setiap agama pada dasarnya sama, tetapi telah dirusak manusia dari waktu ke waktu.

“Allah SWT tidak menyebut Yahudi & Kristen guna memberitahu umat manusia untuk menyembah-Nya. Allah SWT hanya menyebut Islam, jelas & sederhana.” [Dikutip: http://bit.ly/1DcCRfz]
-------------------------------------------
Pelindung. Allah Berfirman: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [2:257] 

Cahaya. Allah Berfirman: “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, & banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, & kitab yang menerangkan.” [5:15] 

Petunjuk & Cahaya. Allah Berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk & cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka & pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah & mereka menjadi saksi terhadapnya.

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [5:55]


Baca Bagian Pertama: Melekh Yacov, Yahudi Hasidic Memeluk Islam @1/2

Melekh Yacov, Yahudi Hasidic Memeluk Islam @1/2


Melekh Yacov lahir di New York. Ia dibesarkan dalam keluarga Yahudi Hasidic, kelompok Yahudi ultra-ortodoks. Berbeda dengan penganut Hasidic lain, keluarga Yacov tergolong biasa-biasa saja dalam menjalankan keyakinannya.

“Kami tidak seperti itu, kami tetap beraktivitas ketika hari sabat. Saya juga tidak mengenakan yarmulke di kepala. Yang pasti, keluargaku lebih banyak dipengaruhi kehidupan sekuler,”

Semasa muda, Yacov merasa tidak seperti orang Yahudi. Ia tidak lagi mempedulikan hari Sabat. Sering mengkonsumsi makanan non halal. Sadar, dirinya tidak lagi mematuhi aturan. Saat itu ia berpikir, apa yang ia lakukan merupakan kehendak Allah. Padahal, semasa kecil, ia banyak mendengar cerita kisah para rabi seperti Eliezar, Baal Shem Tov & Taurat.

Setiap cerita yang ia dengar, Yahudi sepanjang sejarah selalu ditindas. Selama itu pula, Tuhan bersama umatnya sampai akhir.

“Bangsa kami selalu mendapat anugerah-Nya. Jika seseorang ingin memperoleh pandangan objektif tentang alasan orang Yahudi memiliki sikap zionis maka anda harus melihat bagaimana kami didoktrin sejak kecil. Itulah mengapa, kami seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun,”

Yacov tahu betul bahwa Yahudi memiliki ikatan kuat 1 dengan yang lain. Setiap Yahudi selalu memegang erat “umat pilihan” Allah. Tapi ia tidak merasa nyaman dengan itu.

Ia masih ingat, betapa membosankannya saat ia diajak ayahnya mengunjungi sinagoga.

“Saya merasa aneh dengan melihat banyak orang bertopi hitam dengan janggut panjang lalu berdoa dengan bahasa Ibrani,”.

Memasuki usia 13 tahun, Yacov menjalani proses khitan. Dalam tradisi Yahudi disebut Bar-mitvahh’ed. Lalu, setiap paginya ia menempatkan Tefilin, kotak hitam berisi ayat Taurat.

Namun, kebiasaan itu tidak berlangsung lama. Awalnya, ayah Yacov bertengkar dengan anggota jamaah lain. Sejak itu, ayah menolak untuk mendatangi sinagoga.

Tak lama, ayahnya memeluk Kristen. Lantaran diajak temannya. Ibunya enggan menerima keputusan suaminya itu, & akhirnya mengajukan cerai. Masa-masa ini merupakan yang terberat dalam hidup Yacov.

“Keputusan ayah banyak berpengaruh padaku. Saya sendiri bingung, sebenarnya apa Yahudi itu apakah bangsa, budaya atau agama. JIka bangsa, mengapa Yahudi selalu menjadi warga negara kelas 2. Jika agama, mengapa setiap doa dibacakan dalam bahasa Ibrani. Lalu jika budaya, jika seseorang berhenti menjadi Yahudi maka ia berhenti berbicara bahasa Ibrani & mempraktekan tradisi Yahudi,”

Pertanyaan lain, mengapa Ibrahim disebut Yahudi. Padahal ia hidup sebelum Taurat turun kepada Nabi Musa. Anehnya lagi, Taurat tidak menyebutkan Nabi Ibrahim sebagai Yahudi. Kata Yahudi sendiri berasal dari nama salah 1 dari 12 anak Nabi Yakub, Yehuda.

“Dalam tradisi Yahudi sendiri, ketika ibunya Yahudi,  anda dapat menjadi Yahudi meski  Kristen atau atheis. Sejak itu, saya mulai menjauh dari tradisi Yahudi, karena saya tidak puas lantaran terlalu banyak tanda tanya,”.

Sejenak menjauh dari tradisi Yahudi, ia mulai terpesona budaya asli Amerika. Mereka memiliki semangat juang tinggi menghadapi sikap jumawa kulit putih. Mereka terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Terkucil, namun tidak berputus asa dengan keadaan.

Kondisi itu, seperti yang dialami bangsa Palestina. Selama ribuan tahun, bangsa Palestina menempati tanah suci. Kini, mereka harus digantikan orang Yahudi.

Penduduk asli terpaksa tinggal di kamp pengungsi.

“Lalu saya bertanya kepada orang tua tentang apa perbedaan warga asli Amerika & Palestina. Jawaban yang saya dapatkan adalah bangsa Palestina selalu ingin membunuh orang Yahudi lalu mengusir mereka ke laut,”. 


Kamis, 29 Januari 2015

Pesepak Bola Muda, Islam



Pesepak bola muda Jerman, Danny Blum, baru saja mengumumkan dirinya Islam. Pemuda 24 tahun tersebut mendeskripsikan Islam sebagai  agama yang penuh harapan & kekuatan.

“Islam memberikanku harapan & kekuatan, berdoa menenangkan jiwaku,” kata Blum ke Bild, (27/1).